Jakarta UnderCover

Part 01

Ini adalah sebuah perspektif yang gue pernah denger-denger aja ya #eaaa. Jadi yang ditulis disini ini bukan pure dari pengalaman gue tapi dari diskusi dan ngobrol santai dari orang-orang yang hidup di dunia gelap hitam laba-laba di pinggiran ibukota yang dinamai Jakarta.

Dimulai dari sebuah keterbukaan dimasa pasca reformasi ketika itu media dan berita mulai berani buka-bukaan mengenai night-life,yang kebanyakan membicarakan Molimo (judi, minum, narkoba dan seks). Pada tahun-tahun selanjutnya lebih liar lagi karena dengan keterbukaan didorong dengan internet makin ugal-ugalan.

Pada suatu saat gue pernah ketemu dengan seorang GM (germo) yang kita sebut aja dengan nama "Anjas", asli orangnya sopan, ganteng dan sangat soft-spoken. Kejadian ini terlintas karena banyaknya persimpangan antara masalah baik-buruk tentang dunia malam, dan dia ini sebenarnya hanyalah korban keadaan. Dia adalah seorang yatim yang ibu-nya tinggal di kampung di Jateng, dia dateng ke Jakarta baru setahun lalu dengan modal ijazah S1 lulusan ekonomi. Di Jakarta, dia merasa bahwa tidak bisa memenuhi kebutuhan, apalagi selama kuliah ibunya perlu berhutang kesana-sini. Dia ke Jakarta dengan tujuan untuk melunasi hutang ibunya dan juga membangun peng-hidupan yang layak. Tetapi dia merasa sudah setahun ini jusrtu dia tidak bisa menyediakan nafkah yang layak, dia malah merasa semakin tertekan ekonomi. Dia bilang bahwa dengan kerja halal justru nggak menghasilkan apa-apa, malahan side-job nya sebagai GM bisa menghasilkan lebih. Sebulan terakhir aja dia bisa menghasilkan 11 juta dari (ini tahun 2010), dan dia sekarang bisa melunasi hutang.

Perannya sebagai GM ini dimulai dengan suatu malam ketika dia dan temen sekantornya merencanakan sebuah pesta untuk seorang direktur perusahaan asing di bidang batubara, dan mereka ingin di-entertain habis-habisan. Mereka mengorganisasi sebuah pesta kecil yang mana nanti para "tamu" bisa berpulang ke hotel dekat-dekat situ, tentu hotel yang sudah di-book dengan masing-masing sudah disediakan "gandengan"-nya. Malem itu Anjas yang mendapatkan kontak salah satu gandengan, dan mereka minta dicarikan tamu, selanjutnya tinggal sejarah.

Dia banyak cerita bahwa cara mencarikan tamu ini adalah dari murni pengalaman dia sendiri, tidak ada yang ngajarin. "gaji gue dari kantor gue kasih full ke nyokap, terus gaji gue dari kerjaan sampingan ini buat gue" namun Anjas merasa sekarang dia perlu kerja lebih giat lagi "gue pengen nge-hajiin nyokap gue, dan nggak boleh lah pake duit haram" Anjas sekarang sudah mulai sedikit-sedikit untuk meninggalkan dunia hitam dan mulai mencari jodoh karena dia ingin menjalani hidup yang normal.

Berbeda cerita dengan seorang operator lendir yang bernama Damin, dia bercerita bahwa dunia perlendiran ini walaupun penuh dengan glamor tapi taruhannya nyawa. Dia sudah lama di dunia hitam ini dengan awalnya menjadi PA (personal asistant) seorang pengusaha, dimana dia banyak mengurusi sisi gelap pengusaha itu. Lalu dia pun menerima job untuk mengatur berbagai pertemuan dan juga urusan esek-esek pengusaha lain. "Pengusaha itu semakin di depan keliatan alim, dibelakangnya semakin bejad, client gue tiap 6 bulan umroh pak, tapi saling tuker-tukeran gundik". Dia merasa semakin bertolak belakang sifat dan sikap client-nya semakin berbahaya urusannya. "umroh jalan, nyabu juga tambah lancar, maen ceewek-nya makin kenceng" Suatu saat, dia pernah menyelematkan salah satu clientnya dari incaran penangkapan aparat dengan mengorbankan dirinya, lalu dia ditahan selama 2 bulan. "wah saya disiksa suruh ngaku macem-macem, tapi saya diem aja, sampe diancem macem-macem". Dia juga merasa bahwa dengan ditangkap dirinya aparat berusaha menekan secara mental dengan memfitnah diirinya selingkuh dan menjadi pengguna narkoba. Keluarganya yang selama ini merasa dia berkerja di sebuah travel religius ternyata dipermalukan dengan cara seperti ini.

Tetapi dibandingkan dengan Damin ada juga yang lebih cerita yang bisa buat kita terenyuh, awalnya dia adalah seorang pengendara ojek di Mangga Besar lalu menjadi seorang Germo karena suatu saat sering mengantar seorang wanita ke hotel-hotel deket kota. Dia adalah Solihin, yang biasa dipanggil bang Ohing. Berbeda dengan Damin dan Anjas, Ohing mengantar wanita yang sudah sebaya di daerah Kota. "ya siapa aja yang pengen, kadang calling-nya meped dianter aja, namanya Anjelo (antar-jemput lonte) hehe, biasanya si kepengen dipijet, anunya yang dipijet hehe". Dia menyadari bahwa kerjaan ini dilakukan karena terpaksa, karena nggak ada kerjaan lain. dia bahkan pernah berkali-kali ditangkap karena dalam hukum, seorang germo adalah tindakan pidana. "saya diperes, kadang harus bayar sampe 5 juta atau saya masuk penjara". Bang Ohing bercerita kerja dari pagi sampe ke-esokan paginya, nganter dari kota, ke Senayan sampai ke Melawai (Jaksel). "soalnya itu kan kalau naek motor cepet, daripada taksi bisa lama dan kadang suka digangguin sama sopirnya, nanti kalau udah beres dianter pulang lagi" dia bilang untuk sekali jalan dia di-upahi 100-200 ribu. Bang Ohing ingin cepet pensiun dan mengurusi anaknya yang lumpuh di kampung, yang dia tinggal semenjak lahir. Dia mengatakan bahwa istrinya meninggal ketika melahirkan anaknya, lalu dia datang ke jakarta untuk bekerja apapun. Dia sekarang sudah beristri lagi yang mana adalah seorang wanita yang dulu pernah di antar juga "ya awal awal cuman kenalan, tapi akhirnya cinta juga, ya suka sama suka lah". Bagi bang Ohing tidak ada yang baik atau buruk yang ada hanyalah hubungan sebab-akibat "kalau saya dulu nggak nyangka, dapet mantan lonte, tapi ya sudah disyukuri, karena nggak ada itu uang haram uang halal, bagaimana kita ngatur-ngatur ajalah, ibarat baju kalau udah lusuh yang dicuci, dipake lagi, terus kalau kotor ya dicuci lagi". Percaya atau tidak ditengah percakapan yang kita lakukan bang Ohing masih sempet menyelak dan mengatakan bahwa dia ingin beribadah terlebih dahulu. Mungkin ada benarnya, kalau pakaian yang cepat lusuh itu perlu dicuci dan diperlihara lebih baik, seperti kehidupan bang Ohing yang diwarnai kepedihan dan pekerjaan yang tidak layak tapi dia bisa bersyukur.  

Di balik pekerjaan yang rumit itu ada masalah, bagi mereka hal hal seperti ini adalah keseharian yang mereka hadapi untuk terus menyambung sintasan, bertahan hidup.

0 Response to "Jakarta UnderCover"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel